Sudah lama ngidam ipar, aku nekat dan untungnya dia setuju
Ipar perempuanku, wanita yang diam-diam kusukai dan kuinginkan sejak lama, selalu jadi panutan sempurna di mataku—lembut, seksi, dan seolah terlalu sempurna untuk dimiliki kakakku yang kering dan membosankan. Tapi lalu, pertengkaran hebat meledak antara iparku dan kakakku, membuatnya kabur dari rumah dan datang ke apartemenku untuk bersembunyi. “Cuma tiga malam saja,” katanya dengan suara lelah, matanya penuh luka. Tiga malam. Tiga malam serumah dengan wanita yang selalu kurindukan. Aku berusaha menjaga jarak, berusaha jadi adik ipar yang baik, tapi jantungku terus berdegup kencang setiap kali dia tak sengaja menyentuhku, atau saat pandangannya meluncur penuh kesedihan yang menggoda. Di malam kedua, dalam keheningan apartemen kecil itu, aku tak sanggup menahan diri lagi. Aku memutuskan untuk mengaku. “Kak… aku suka sama Kakak dari dulu. Bukan sebagai ipar, tapi… aku benar-benar cinta Kakak.” Suasana seolah membeku. Iparku menatapku, mata terbelalak, kaget campur bingung. Tapi alih-alih menolak atau memarahi, dia hanya menghela napas pelan, lalu tiba-tiba menarikku ke pelukannya. “Kamu bodoh banget…” bisiknya, tapi suaranya sudah tak lagi terkendali. Malam itu, batasan antara ipar dan adik ipar lenyap. Di kamar yang redup, tubuhnya yang lembut dan hangat melilitku seolah ingin meredakan sakit di hatinya. Ciuman pertama masih ragu, tapi cepat berubah jadi api yang membara, membakar kami berdua. Dia, istri yang dulu setia, kini membiarkan dirinya tenggelam dalam kenikmatan terlarang, sementara aku, yang dulu cuma adik ipar pemalu, berubah jadi pria yang menaklukkan setiap inci tubuhnya. Tiga malam itu jadi rahasia yang tak terhapus. Setiap sentuhan, setiap erangan pelan darinya terukir dalam di pikiranku. Tapi saat fajar hari ketiga tiba, iparku berdiri di depan pintu, koper di tangan, tatapan rumit. “Jangan bilang siapa-siapa, ya?” katanya, suara lembut tapi tegas. “Dan… terima kasih.” Dia pergi, meninggalkanku dengan hati hancur dan kenangan yang membara. Apakah dia akan kembali ke kakakku, atau tiga malam itu sudah mengubah segalanya selamanya? Hanya waktu yang bisa jawab. Tapi di hatiku, ipar perempuanku selamanya jadi api yang tak pernah padam.
KategoriBokep Jepang
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!